Sejarah Raja Ampat di Provinsi Papua Barat yang Perlu Anda Ketahui !

Di mana Raja Ampat? Kabupaten Raja Ampat terletak di provinsi Papua Barat tepatnya dibagian Selatan kepala burung pulau Papua. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong berdasarkan UU No.26 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Kerom, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat pada tanggal 3 Mei tahun 2002. Ibu kota kabupaten Raja Ampat terletak di Waisai.

Kabupaten ini sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan sehingga sering disebut juga sebagai kepulauan Raja Ampat alias Raja Ampat Island. Raja Ampat memiliki 4 pulau besar, yakni Pulau Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool berserta 1.847 pulau kecil lainnya. Jadi, kabupaten ini identik dengan surga Wisata Bahari Yang Sangat indah Keindahan Raja Ampat tidak perlu diragukan lagi.

Baca Juga : Paket Wisata Raja Ampat

Tempat ini dikenal masyarakat dunia dan dinobatkan sebagai salah satu tempat dengan suga wisata bahari terbaik di dunia. Tapi, terlepas dari keindahannya. Apakah sobat sudah mengetahui tentang sejarah Raja Ampat?Kalau belum, dalam artikel ini Dihaimoma.com akan berbagi tentang sejarah Raja Ampat secara singkat.

Dalam pembahasannya akan saya bagi menjadi dua bagian. Sejarah Raja Ampat ditinjau dari cerita masyarakat setempat dan juga dari segi ilmu sejarah dengan mengacu pada beberapa sumber.

1. Sejarah Raja Ampat Versi Masyarakat  Setempat

Rasanya sangat naib jika kita harus merendahkan mitos atau pengetahuan tradisonal suatu kelompok masyarakat. Mengapa? Sebab ilmu pengetahuan dan teknologi yang dewasa kita nikmati pun berawal dari mitos. Yah..andai saja mitos itu tidak ada, manusia tidak akan mungkin dituntun untuk terus berpikir dan melahirkan pengetahuan yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah.

Mitos terbukti mampu membawa manusia keluar dari goa ketidaktahuan. Melalui mitos, orang mulai berpikir untuk membuktikan mitos-mitos tersebut dengan nalar logis dan eksperimen. Mitos merupakan pengetahuan yang mampu menggambarkan suatu kondisi yang masih misteri dengan pengetahuan ala kadarnya untuk dapat diterima nalar manusia.

Seperti pada umunya setiap kelompok masyarakat disuatu daerah memiliki sistem pengetahuan tradisional yang mencakup semua lini kehidupan untuk menjelaskan suatu peristiwa kepada setiap generasi. Masyarakat Raja Ampat pun memiliki dua versi cerita yang sama-sama berkisah tentang asal-usul raja Ampat.

Pertama versi masyarakat komunitas keturunan Biak di Raja Ampat. Kedua versi masyarakat suku  Ma’ya, yang berbahasa Ma’ya,  yakni suku Wawiyai, Laganyan, Ambel, dan Kawe.

Naah…! Kalau kedua versi cerita ini kita tinjau berdasarkan ilmu pengetahuan masa kini maka setiap  cerita rakyat dapat kita bagi kedalam tiga golongan besar, yakni Mite, legenda, dan Dongeng. Dengan demikian kedua cerita berikut ini masuk kedalam legenda, karena karakternya yang tidak dianggap suci dan bisa menjadi konsumsi publik.

a.  Sejarah Raja Ampat Versi Suku Biak (Baser)

Cerita asal-usul Raja Ampat versi masyarakat keturunan Biak di Raja Ampat ini sangat populer sehingga tercetak sampai dalam brosur-brosur pariwisata. Versi ini tidak hanya populer, tetapi juga mendominasi cerita asal-usul Raja Ampat dan diketahui banyak orang

Dari segi kuantitas kelompok ini bisa disebut sebagai suara mayor atau pemegang narasi besar dalam cerita asal-usul Raja Ampat. Bukan hanya popular, tetapi juga banyak ahli yang turut membahas seputar cerita ini, misalnya Kamma dalam buku “Ajaib di Mata Kita” dan beberapa ahli lainnya yang turut membahas cerita versi ini dalam buku mereka.

Berikut ini merupakan cerita asal-usul Raja Ampat berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Amos Mambrasar yang juga merukan keluarga Biak di Raja Ampat atau orang Beser yang ditulis oleh Dina Amalia Susamto dalam penelitiannya yang dirangum Dihai.

Raja Ampat merupakan nama yang diambil dari empat raja putra Kurawesi yang berkuasa di Pulau Waigeo, Batanta, Misool, dan Salawati. Empat anak ini lahir dari pernikahannya dengan Boki Taiba, putri Sultan Jamaluddin Tidore dan masing-masing dari mereka bernama Kolano War, Kolano Betani, Kolano Dohar, dan yang bungsu bernama Kolano Mohamad. Kolano dalam bahasa Biak berarti gelar raja.

Pada tahun 1512 Sultan Jamaluddin wafat dan digantikan oleh Sultan Syech Mansyur. Pada masa itulah, antara tahun 1512–1526, Kurawesi beserta istri dan anak-anaknya pulang ke Waigeo diantar oleh para pengikutnya dari Pulau Makian, di Tidore.Ketika membandingkan versi cerita ini dengan cerita yang tercantum dalam situs-situs resmi dan brosur wisata tentang asal-usul Raja Ampat.

Menurut sang peneliti, cerita asal-usul Raja Ampat yang dituliskan dalam brosur dan laman pariwisata hampir sama dengan narasi yang berasal dari keluarga Mambrasar di atas ini.
Perbedaannya, di dalam pemasaran pariwisata ditekankan pada mitos empat raja yang berasal dari telur yang menetas. Telur tersebut ditemukan oleh Kurawesi dan istrinya. Telur yang ditemukan berjumlah tujuh, empat menjadi pangeran, satu menjadi seorang perempuan, satu menjadi hantu, dan yang terakhir tidak menetas menjadi batu keramat.

b.  Sejarah Raja Ampat Versi Suku Ma’ya

Dihaimoma.com
Siapa suku Ma’ya? Istilah Ma’ya ini awalnya Maya kemudian diganti oleh Van der Leeden dengan istilah Ma’ya dari kata Makya atau Makia/Makian, tetapi orang Ma’ya sendiri menolak disebut sebagai keturunan Makian. Sebutan Ma’ya menurut Adam Gaman merupakan sebutan untuk empat suku yang ada di sana, yaitu suku Wawiyai, Langgayam, Kawe, dan Ambel yang memiliki bahasa sama tetapi dengan dialek berbeda (Remisjn, 2004:39-79). Jadi kata Ma’ya sendiri berasal dari kata Makia. Dalam cerita asal usul Raja Ampat Adam Gaman mengatakan bahwa versi ini merukan merupakan versi minor.

Menurutnya,  Raja Ampat yang berasal dari empat raja adalah pemahaman yang salah. Sementara itu, telur yang ditemukan oleh istri Alyab Gaman, Boki Duna, berjumlah tujuh. Tujuh telur itu menetas lima menjadi pangeran. Telur pertama yang menetas diberinama Kalana Gewar. Telur kedua diberi nama Funtusan. Lalu menetas yang ketiga diberi nama Melahaban. Telur keempat menetas menjadi bayi diberi nama Kelemuri. Bayi yang berasal dari tetasan telur kelima diberi nama Fatagar. Telur keenam menetas menjadi bayi perempuan dan diberi nama Pinthake. Satu telur yang tidak mentas hingga kini menjadi batu di Kaliraja yang masih dikeramatkan oleh masyarakat Ma’ya. Menurutnya, tidak ada telur yang menjadi setan atau hantu. Representasi telur yang menjadi hantu tersebut bagi Alyab Gaman menyinggung masyarakat Ma’ya.

Ketika terjadi perseteruan dalam perebutan teteruga (penyu), kelima pangeran itu memutuskan untuk berpisah. Pangeran pertama menjadi raja di Pulau Waigeo. Pangeran kedua akan menjadi raja di Pulau Salawati. Pangeran ketiga akan menjadi raja di Pulau Misool. Pangeran keempat menuju Seram. Pangeran kelima hidup di Fakfak. Pintakhe dibuang ke Pulau Wundi, Biak, karena hamil akibat hubungan gelapnya dengan Funsomon, putra Kapatlot. Pintakhe melahirkan putra bernama Mantuki dan kelak diberi gelar Gurabesi/Kurabesi oleh sultan Tidore setelah ia membantu peperangan melawan Ternate.

Menurut Adam Gaman, Sultan Tidore berkuasa saat itu adalah Pangeran Nuku. Ia menghadiahkan adik perempuannya yang bernama Boki Taiba kepada Gurabesi sebagai istri. Gurabesi dan Boki Taiba kembali ke Waigeo, menetap sampai meninggal. Kematian mereka menurut Adam Gaman karena dibunuh oleh orang-orang Ternate. Perkawinan mereka tidak meninggalkan keturunan.

Adam Gaman mengatakan bahwa Raja Ampat bukan empat raja keturunan Gurabesi, tetapi empat suku, yakni Wawiyai, Lagayan, Kawe, dan Ambel yang berperan membesarkan dan mendidik lima pangeran dari telur yang menetas sehingga mendapat penghargaan sebagai Raja Ampat atau “Kalana Fat” dalam bahasa Ma’ya. Empat suku tersebut berbahasa Ma’ya dengan dialek yang berbeda.

Baca Juga :

http://www.dannychoo.com/en/profile/wisatarajaampat
https://bandcamp.com/wisatarajaampat
http://en.clubcooee.com/users/view/wisatarajaampat
https://www.fontshop.com/people/wisata-raja-ampat
http://myfolio.com/wisatarajaampat
https://logopond.com/wisatarajaampat/profile/290577

Updated: August 7, 2018 — 12:23 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruth Blog © 2018 Frontier Theme